Rabu, 08 November 2017

02113. DIANTARA DUA TITIK SINAR BIRU TEDUH :

Keseringan pulang malam lewat jam 12 malam lah, istri jadi penasaran apa sih enaknya berburu, dan memutuskan ikut dengan anak perempuan  berusia delapan bulan, dijok belakang sudah disiapkan kasur kalau nanti waktu berburu ngantuk bisa tidur dikasur.

Hari baru jam lima sore ketika meninggalkan Doro  Sambi, setelah berbelanja kebutuhan malam, rokok batu battery dll,  kami meninggalkan kota pelabuan Kempo yang mulai gelap, lepas tanjakan Doro Toi ada perladangan penduduk sebelah kanan jalan, kendaraan berhenti.

Saya naik keatas kap dari kanvas kedua kaki mengangkang diatas kap motor, senapan dalam pangkuan, peluru cadangan dalam kantong jaket, koplamp diatas kepala lengkap dengan kompartemen battery 5x1,5 volt dengan shaklaar diatasnya, dan adalagi, shoklet 500 what yang tersambung ke accu mobil ditangan kanan, siiiiap.

Shoklet dinyalakan dan segera menyapu keperladangan sebelah kanan, tidak menemukan mata, kaca mobil diketuk sekali dan mobil bergerak dalam posisi gigi dua double gardan, tarikan terasa kokoh tapi lambat. Di kabin kendaraan, sopir, istri dan anak perempuan saya dalam pangkuannya di jok depan, dibelakan ada Teta , duduk diatas kasur yang sengaja digelar.

Jeep jalan pelan bergoyang diatas jalan batu koral yang bayak berlubang, shoklet berpindah dari sisi kanan kesisi kiri jalan, dibalik tebing ada ladang dan gerombol pohon, tidak ditemukan mata yang menyala melawan sinar shoklet.

Shoklet kembali diarahkan kesisi kanan, disini ada perladangan juga, jeep bergerak terus memasuki bakal perladangan kelapa, lahan basah yang sering terendam dimusim hujan, belum kelihatan tanaman kelapanya, atau mungkin sudah ditanam tapi habis lagi dimakan babi hutan. 

Sepintas saya melihat kilatan sinar biru dikejauhan, dipinggiran ladang ke sisi hutan jauh sekali, kaca jeep diketok dan berhenti, saya coba lagi menyapukan shoklet, ada kilatan sinar biru lagi   tapi tidak tampak jelas posisinya, mungkin karena malam belum pekat benar, sinar layung dilangit senja masih sedikit mengambang di balik perbukitan sebelah barat.

Shoklet dimatikan dan ditaruh diatan kanvas, saya turun dan menyalakan koplamp 7,5 volt terasa warnanya agak merah dibandingkan shoklet 500 wat, tapi jarah jangkaunya hamper 30 meter.

Setelah diberi aba-aba penumpang diam menunggu, saya melangkah masuk ke ladang yang masih penuh semak belukar dengan memanjat pagar jarang dari kayu gelondongan, masuk keladang becek, tapi sepatu jungle kanvas dengan sol lunak masih mantap ditanah becek ini.

Saya angkat kepala dan agak diputar mencari jalur jalan yang hendak ditempuh. Maaaata, sepasang mata biru teduh tidak bergerak didepan saya dalam jarak 15 meter, senapan diangkat, kunci pengaman dibuka, langkah ini yang sering membuat perburuan menjadi sesalan panjang, setelah bidikan masuk dan tarik pelatuk, senjata ternyata ngunci, dan binatang buruan lari.

Kali ini saya tidak lupa, fisir diarahkan kesasaran dengan tenang, ini juga salah satu situasi yang sering membuat blunder, ketika sasaran yang kelihatan hanya mata, kita bisa menembak dengan tenang. Namun ketika sasaran yang tampak badannya, besaaar, dengan tanduk bercabang enam, menembak tidak lagi bisa sabar, jantung ikut berpacu kencang, mana bisa nembak dengan tenang.

Kebanyakan rusa masih dapat kabur, walaupun mungkin sempat kena tembak, karena peluru tidak tepat mengenai sasaran yang mematikan, itu kata pak Dandim yang bersenjatakan Gerren, apalagi saya yang berburu hanya dengan Winchester caliber 5,4 mm. Senjata ini yang banyak membuat rusa sakit, masih kata pak Dandim.

Kita teruskan, tadi sampai membuka kunci, titik putih dari fisir depan sudah masuk dalam celah v fisir belakang, dan tepat diantara dua titik sinar biru teduh, kemudian diturunkan satu inci, tahan nafaaaas, praaak, kena, saya merasakannya, seperti lemparan batu yang  mengenai ruas bamboo yang agak lapuk.

Saya berteriak memanggil supir dan pembantunya, mereka dating cepat dan segera mengelilingi rusa besar, tanduknya bercabang empat, sesuai prosedur sebelum diangkat rusa diperiksa, apanya yang kena, tapi kami tidak menemukan lubang diantara mata seperti yang saya kira, tapi nanti, dimulutnya ada sedikit darah, dan coba dibuka, ternyata giginya tanggal satu, ahh ini tembus ke otak belakang pak, kata supir.

Rupanya saat ditembak rusa tadi sedang menengadahkan muka, sehingga peluru menembus mulut dan tembus keotak belakang, pantesan rusa jatuh dalam  posisi dua kaki depan terjulur kedepan, dia tidak sempat bergerak lagi saat kena tembak di titik sasaran yang mematikan, melainkan terjerembab ditempat.

Namun yang tetap menjadi pertanyaan, waktu saya menyapukan sinar shoklet, dan melihat sepasang mata rusa itu jauh dipinggir ladang sebelah sana, kurang lebih lima puluh meter, kenapa saat saya turun dari jeep dan masuk keladang, kedua sinar biru teduh tadi ada didepan saya, kurang lebih lima belas meter, rejeki memang kadang aneh.

Waktu rusa sudah diseret dan dinaikan keatas jeep, istri saya masih heran, apa benar ini rusa, sama herannya ketika pertama kali menembak, dibelakang kepala PU melihat rusa, dihutan, malam hari, daging, enam puluh kilogram, berkeliaran, tidak ada yang punya, mengherankan.

0211023.OOOH MATHODOHO :

Begini, rusa ini kecil, pak Iwan tangkap badanya, saya terkam lehernya, "ok", dlm hitungan 1, 2, ti………….bruk.
Leher rusa sudah dlm genggaman saya, badannya sdh ditindih pak Iwan, rusa hanya menggoyangkan leher sedikit, itu cukup membuat jempol kanan saya terkilir.

Catatan : Hati2 dg binatang liar, walau sekecil apapun.

Ahirnya datang pak Abdarab orang arab, sekarang dia bawa golok, dan rusa langsung disembelih. Rusa sdh naik ke jeep, rombongan pemburu bergerak pulang, supir diberi tanda putar kanan dan lurus, lurus sampai menthok.
Ah bukan arah sini, balik kanan, lurus lagi, ambil kiri lurus………, menthok lagi, mana jln yg tadi ya, putar lagi, semua jln tampak lurus, tapi tdk ketemu jln awal masuk tadi. Putar lagi lurus lagi menthok lagi.

Eeh bensin bisa abis, kita tdk bisa pulang, "Kita nyasar", kemana jln kita pak Abdarab, tdk tahu bapak, rasanya ya itu nyasar kita. Leh…Leh, supir I Gde Jedreu, dipanggil Soleh, leh.

Kamu yg nyasar krn kamu supirnya, biar ketemu jalan lagi, kamu harus cuci muka dg anu, "anu apa", BAK_mu, "air kencing, aah bapak jangan bapak". "Aaah cepat", pak Iwan gertak, yg waras ngalah, supir cuci muka dg air BAK nya sendiri, tentu disaksikan pak Iwan.

"Oooh mathodoho, tebeh luru kee, tebeh luruuuuuu, ooh mathodoho", pak Abdarab  orang Dompu keluarkan ilmunya.
Sayup2 suara jawaban dari orang ladang, mereka tdk mau mendekat takut tertembak.
Ahirnya mereka muncul setelah komunikasi jarak jauh dg pak Abdarab, yg besar tinggi dan suaranya besar, kadang berubah menjadi kecil kalau dia tdk yakin.

Kami dituntun kejalan awal kami datang, ternyata tdk jauh, terima kasih pak, "ya  ya pak", dia kembali keladang, dan kami meneruskan pulang dg rusa kecil hasil buruan malam itu.

021102.PELURU HABIS :

Perjalanan diteruskan, sampai ditepi kali masih ada air dan batu2, tapi bisa dilewati mobil tapi tepian kali curam, ada sekitar 6 m turunannya, kemudian harus menanjak lagi diseberang sekitar 3 m, pepohonan disini sangat rimbun sehingga malam tambah pekat.

Setelah periksa medan diputuskan jalan, mobil jln dg doble gardan gigi 2, pelan dan berat, turun ternyata lebih mudah, waktu mendaki yg sulit, krn hrs mendaki jln tanah dg ban basah. Ahirnya jeep selamat sampai diseberang kali.

didepan terbentang padang alang2 luaaas dan terbuka, kami melanjutkan "nyoklet" mengambil jalur lurus searah masuk padang terbuka. Gerakan lapu memberi kode kpd supir agar berbelok kekanan, lurus lagi, kemudian kekanan lagi, lurus lagi.

Ada mata, arah kiri, kiri, kanan terus kanan, berhenti, mobil berhenti setelah kaca mobil diketuk. Ini hanya sepasang mata semoga tdk lewat. Pelan senapan diangkat bersamaan dg sinar koplamp diatas bayang2 2 titik sinar biru teduh.

Titik putih dari fisir depan masuk celah v dari fisir belakang, paaas diantara dua titik biru teduh, angkat sedikit, tahan nafas……,paaak.
Mata kelihatan meloncat tersentak, saya kehilangan buruan, turun dari kap jeep dan mengejar, ternyata alang2 tdk terlalu tinggi.

Rusa masih ada, lepas tembakan lagi, masih jalan sempoyongan, tembak lagi, masih jalan tetap sempoyongan, tembak lagi dan lag, ahirnya rusa terduduk tapi peluru juga habis. Pak Iwan sdh disebelah, peluru pak, "abis pak", aah.

021101. SULIT MENGUNCI SASARAN :

Kemarau panjang membuat daerah perburuan kering, rumput alang2 dan kucingan kesukaan rusa juga kering, tdk ada makanan diladang perburuan membuat rusa tdk datang. Ada langkah darurat utk menciptakan rumput hijau dan muda dg cara singkat, membakar padang alang2, dlm tempo seminggu sdh tumbuh rumput baru hijau dan muda.

Udara malam yg lembab menebar aroma abu alang2 terbakar menjadi khas, ini kesukaan rusa, mereka menjilati abu sekaligus makan rumput muda yg baru tumbuh. Aroma khas ini pula yg merangsang naluri dan andrenalin pemburu siaga, dan mereka bertemu ditengah padang perburuan, kloplah.

Kemarau makin keras dipadang perburuan tdk ada lagi rumput yg tumbuh, semua mati kering kerontang, tetapi "cerita" perburuan rusa terus bergulir. Di Pulau Moyo rusa berkeliaran seperti kambing,  di bukit Kore dan Doro Peti (jalan masuk ke gn Tambora yg dilalui wamen ESDM alm) dan sekitar gunung Tambora, juga di Hu’u. 

Jalan tembus yg tadinya tdk bisa dilalui kendaraan double gardan, sekarang mengering menantang utk dijarah. Perburuan malampun mulai berubah arah, semula berburu disepanjang jln propinsi atau kabupaten, sekarang mulai merambah jln tembus ke pedalaman.

Dilokasi dua pohon besar padang Sori Uttu ada jln tanah tembus kekiri, dikiri kanan jln ini perladangan kering.  Ada mata, buanyaaak, para penembak turun dari kap mobil, "ngasruk" dirumput alang2 kering setinggi dada, ada 2 senapan jadi posisi penembak harus tetap bergandengan atau saling membelakang.

Setelah beberapa sasaran mata ditembak, tdk ada satupun rusa yg rubuh, sasaran jadi kacau.
Dlm gerombolan rusa yg banyak menembak menjadi sulit menentukan sasaran. Yg tampak semua titik2 biru teduh berbaur me_nari2, bergerak kesana kemari tak beraturan, sulit utk menetapkan 1 sasaran saja.

Ahirnya gerombolan rusa menghilang, aah… lebih nudah menembak hanya sepasang mata saja.

Rabu, 18 Maret 2015

021112. MOUSER PAK POLISI :

CERITA PAK IWAN ALM :

Pak Iwan alm pernah cerita, berangkat berburu dg pemburu professional orang Perancis di daerah Lampung Sumatra, mendapati rusa sedang melihat kearah lain dia tidak mau menembak, sampai rusa betul2 menghadap kepada pemburu.

Rupanya didalam dunia perburuan juga ada pemburu Kesatriya dan pemburu Burisrawa yg haus buruan seperti saya. Melihat ekor, ekor ditembak, melihat paha, paha ditembak, padahal paha siapa, sungguh memalukan.

Ada lagi peraturan berburu professional, kata pak Iwan, kalau binatang buruan sedang tidur, dibawah pohon misalnya, kita tdk boleh langsung menembaknya, melainkan harus dibangunkan dulu, bagaimana cara membangunkannya, nanti keburu lari.

Senjata dikokang pelaaan dahulu, kemudian dg menginjak ranting, traaak, rusa bangun, baru deh di tembak, kalau tdk terus loncat rusanya.

Masih ada lagi, kalau rusa sedang menyeberang sungai tdk boleh ditembak, kenapa, kan dia dalam posisi lemah, tdk berdaya, ooh. 

Masih ada lagi, ada, masih kata pak Iwan alm, rusa yg lagi hamil tdk boleh ditembak, dari mana kita tahu dia sedang hamil, lha wong bukan saya yg menghamilinya.

Makanya tempo perburuan itu ada musimnya, enam bulan terbuka, enam bulan tertutup, yg tertutup itu pada musim rusa hamil, antara bulan Juni sampai November, ooooh.

021111. MOUSER PAK POLISI :

BERBURU KE HU'U :

Penasaran dengar cerita orang saya coba berburu ke daerah Hu U, bagian selatan kota Dompu yg berbatasan dg pesisir selatan, kabarnya sekarang menjadi lokasi peselancar terbaik di Indonesia, dan telah berkembang menjadi daerah wisata, AlhamduliIllah. 

Karena yg memberi info anggota polisi saya mampir jemput pak polisi ternyata lagi ada, setelah persiapan beres kami berangkat bersama dua orang anggota polisi.

Persawahan yg berbatasan dg kampung kering tapi masih ada rumput hijau disana sini, perjalanan terus masuk ke hutan disini tdk ada padang alang2, jalan berbukit dg pohon2 perdu diselingi semak2.

Dari kejauhan terdengar gemuruh ombak lautan selatan, tapi tak terjangkau cahaya lampu shoklet. Sampai diujung pendakian jalan makin sulit, sementara selama ini tdk menemukan mata, ahirnya kami berbalik arah.

Dalam perjalanan pulang setelah masuk pesawahan kering ada babi hutan yg sedang menggaruk tanah basah mencari cacing, kira2 dlm jarak 30 meter, pak polisi terlihat membidikan senjata Mousernya, dooaar,…..dooaar, terdengan beberapa kali tembakan, namun babi hutan tetap lari menjauh. 

Penasaran saya ikut menbidik babi hutan yg jaraknya sekarang hampir lima puluh meter, tapi babi hutan berlari dlm posisi melintang arah kami, sehingga saya nyaman membidik bagian atas pelipis babi hutan itu, tarik nafaas…………praak, babi hutan tersungkur.

Sekarang pak polisi yg balik heran, senjata apa itu, suaranya hampir tak terdengar, tapi babi hutan langsung tersungkur dlm jarak tembak hampir 50 meter, sementara tembakan senjata Mousernya tampak tak mempan sama babi hutan itu, bahkan dari jarak tembak yg lebih dekat. 

Catatan :

Jangan menyakiti binatang buruan, tembaklah dibagian yg mematikan, diatas pelipis dari bagian kepala, atau jantung di bagian dada, atau diantara dua titik mata, atau jangan tembak sama sekali.

Jumat, 10 Oktober 2014

02196. MABUK DAGING.


Makan sate sambil cerita ngalor ngidul tak terasa malam sudah menjelang pagi, perut kenyang  makan sate daging rusa saja ahirnya masuk bilik kerja dan tudur, besok hari minggu.

Ada terdengar orang ribut, terbangun tapi kepala terasa beraaat, tidur lagi. Terbangun lagi hari sdh sore, tapi kepala berat dan sakiiit sekali, tidur lagi, baru bisa bangun senin pagi harinya, itupun masih sempoyongan.

Dari kamar sebelah juga rupanya baru pd bangun dan sempoyongan juga, kenapa kepala kita yaah, iyah sakit sekali, kaya orang mabuk, iya mabuk daging yah, kok kayak begini.

Catatan : Jika anda makan daging rusa hasil buruan sebaiknya secukupnya saja, sisanya utk di dendeng dan jika sdh kering disimpan utk dibawa pulang ke Bandung, itu kalau masih ada lahan perburuannya dan rusa buruannya.