Rabu, 08 November 2017

0211023.OOOH MATHODOHO :

Begini, rusa ini kecil, pak Iwan tangkap badanya, saya terkam lehernya, "ok", dlm hitungan 1, 2, ti………….bruk.
Leher rusa sudah dlm genggaman saya, badannya sdh ditindih pak Iwan, rusa hanya menggoyangkan leher sedikit, itu cukup membuat jempol kanan saya terkilir.

Catatan : Hati2 dg binatang liar, walau sekecil apapun.

Ahirnya datang pak Abdarab orang arab, sekarang dia bawa golok, dan rusa langsung disembelih. Rusa sdh naik ke jeep, rombongan pemburu bergerak pulang, supir diberi tanda putar kanan dan lurus, lurus sampai menthok.
Ah bukan arah sini, balik kanan, lurus lagi, ambil kiri lurus………, menthok lagi, mana jln yg tadi ya, putar lagi, semua jln tampak lurus, tapi tdk ketemu jln awal masuk tadi. Putar lagi lurus lagi menthok lagi.

Eeh bensin bisa abis, kita tdk bisa pulang, "Kita nyasar", kemana jln kita pak Abdarab, tdk tahu bapak, rasanya ya itu nyasar kita. Leh…Leh, supir I Gde Jedreu, dipanggil Soleh, leh.

Kamu yg nyasar krn kamu supirnya, biar ketemu jalan lagi, kamu harus cuci muka dg anu, "anu apa", BAK_mu, "air kencing, aah bapak jangan bapak". "Aaah cepat", pak Iwan gertak, yg waras ngalah, supir cuci muka dg air BAK nya sendiri, tentu disaksikan pak Iwan.

"Oooh mathodoho, tebeh luru kee, tebeh luruuuuuu, ooh mathodoho", pak Abdarab  orang Dompu keluarkan ilmunya.
Sayup2 suara jawaban dari orang ladang, mereka tdk mau mendekat takut tertembak.
Ahirnya mereka muncul setelah komunikasi jarak jauh dg pak Abdarab, yg besar tinggi dan suaranya besar, kadang berubah menjadi kecil kalau dia tdk yakin.

Kami dituntun kejalan awal kami datang, ternyata tdk jauh, terima kasih pak, "ya  ya pak", dia kembali keladang, dan kami meneruskan pulang dg rusa kecil hasil buruan malam itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar