Kemarau panjang membuat daerah perburuan kering, rumput alang2 dan kucingan kesukaan rusa juga kering, tdk ada makanan diladang perburuan membuat rusa tdk datang. Ada langkah darurat utk menciptakan rumput hijau dan muda dg cara singkat, membakar padang alang2, dlm tempo seminggu sdh tumbuh rumput baru hijau dan muda.
Udara malam yg lembab menebar aroma abu alang2 terbakar menjadi khas, ini kesukaan rusa, mereka menjilati abu sekaligus makan rumput muda yg baru tumbuh. Aroma khas ini pula yg merangsang naluri dan andrenalin pemburu siaga, dan mereka bertemu ditengah padang perburuan, kloplah.
Kemarau makin keras dipadang perburuan tdk ada lagi rumput yg tumbuh, semua mati kering kerontang, tetapi "cerita" perburuan rusa terus bergulir. Di Pulau Moyo rusa berkeliaran seperti kambing, di bukit Kore dan Doro Peti (jalan masuk ke gn Tambora yg dilalui wamen ESDM alm) dan sekitar gunung Tambora, juga di Hu’u.
Jalan tembus yg tadinya tdk bisa dilalui kendaraan double gardan, sekarang mengering menantang utk dijarah. Perburuan malampun mulai berubah arah, semula berburu disepanjang jln propinsi atau kabupaten, sekarang mulai merambah jln tembus ke pedalaman.
Dilokasi dua pohon besar padang Sori Uttu ada jln tanah tembus kekiri, dikiri kanan jln ini perladangan kering. Ada mata, buanyaaak, para penembak turun dari kap mobil, "ngasruk" dirumput alang2 kering setinggi dada, ada 2 senapan jadi posisi penembak harus tetap bergandengan atau saling membelakang.
Setelah beberapa sasaran mata ditembak, tdk ada satupun rusa yg rubuh, sasaran jadi kacau.
Dlm gerombolan rusa yg banyak menembak menjadi sulit menentukan sasaran. Yg tampak semua titik2 biru teduh berbaur me_nari2, bergerak kesana kemari tak beraturan, sulit utk menetapkan 1 sasaran saja.
Ahirnya gerombolan rusa menghilang, aah… lebih nudah menembak hanya sepasang mata saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar