Selasa, 30 September 2014
0216. ANAK SAPI APA ANAK RUSA :
Masa awal perburuan sering menembak bersama duduk berdua diatas kap jeep, kalau saya sebagai juru lampu pak Iwan alm pegang senjata dan menembak, atau sebaliknya pak Iwan jadi juru lampu, saya pegang senjata dan menembak. Pak Iwan masih muda seusia saya namun dia lebih tegap badannya dan lebih keras bentakannya sama mandor dan pekerja, dalam berburu dia lebih pengalaman, waktu di Lampung sering berburu bapaknya juga pemburu, kalau menembak babi hutan bapak pak Iwan jongkok didepan lorong sarangnya, walau babi hutan datang nyeruduk, dia yakin dengan senjata dan tembakannya, dan babi hutanpun tersuruk jatuh dihadapannya.
Pak Iwan tak berani ngasruk , disekitar pohon besar Sori Utu kumpulan rusa berada jauh ditengah padang alang-alang, sedangkan disemak-semak pinggir jalan banyak sekali babi hutan berkeliaran, graak. . grooook. Bagian saya turun mengusir babi hutan dan masuk padang alang-alang. Malam itu disekitar pohon besar Sori Utu saya menebar sinar shoklet kearah kanan, ada bekas ladang dipinggir lapangan bola kampung Sori Utu, disitu binatang ternak dan binatang liar bercampur, banyak sinar mata binatang malam berkeliaran, ada sepasang mata yang biru teduh rendah, apa ini pak Iwan, ah itu anak sapi, tidak sini senjata, karena ada disisi kanan senjata saya diambil alih.
Walaupun pak Iwan bilang itu anak sapi, saya tidak setuju, senjata dikokang dan membidiknya, paak.....Saya turun dan berlari kearah sasaran tadi, ternyata rusa, anak rusa sedang istirahat sambil memamah biak melingker ditanah, jadi posisi matanya sangat rendah, namun tadi saya sangat yakin itu mata rusa, bukan anak sapi, rasanya agak beda kedalam debaran jantung.
Hasil buruan boleh rusa kecil, tapi cerita sesudah berburu sama serunya, sampai dirumah sambil mencabuti duri rumput kucingan yang menancap memenuhi kaki, cerita berburu bisa sampai kemana-mana. Orang kampung berburu rusa naik kuda, kuda masuk hutan, rusa berkeliaran seperti kambing dipadang rumput Doro Peti, jalur pendakian ke gunung Tambora yang dilewati wamen tamben almarhum, sore hari, mereka tidak lari melihat kuda, kuda dibiarkan berbaur dengan rusa, sementara penunggangnya sudah hilang meraih dahan pohon rindang dan naik pohon bersembunyi. Pemburu dan senapan bisa dekat sekali kesasaran senja hari, kemudian menembak rusa dari tempat tersembunyi.
Adalagi cara berburu yang sangat menguntungkan dari sisi hasil buruan, mereka berangkat beramai-ramai kehutan yang banyak rusanya, disini rusa berkelompok-kelompok, mereka hanya menggunakan tali yang sudah dimanterai, kemudian digelar diantara ranting dan belukar hutan supaya kelihatan oleh kelompok rusa. Digelar memanjang dari dua sisi hutan dan mengarah ke tebing yang curam, setelah itu beres mereka beramai-ramai mengusir kelompok-kelompok rusa ketebing.
Yang mengherankan semua rusa tidak berani melompati atau mengolongi tali tadi, mereka akan terus berlari walau ketebing, para pejantan saling tanduk dengan pejantan lain, tapi tetap tidak berani melangkahi tali, sampai semua rusa jatuh kedalam tebing curam, dan dibawah sudah menunggu para tukang pukul yang akan memukuli rusa-rusa sampai mati.
Lha bawa dagingnya gimana pak, mereka membelah paha dada dan iganya, kemidian dipukuli pake batu, digarami dan dijemur. Oh seperti yang dijual ke proyek itu, pantesan dendengnya keras dan tebal.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar