Minggu, 27 Juli 2014
02111. COLA-COLA :
Kota Dompu tahun 1972 jalan trans Sumbawa sebagian besar masih tanah berbatu dan dimusim hujan banyak sungai dadakan yang menerjang badan jalan, ada pula badan jalan yang berubah jadi sungai. Keluar kota Dompu disambut pesawahan irigasi peninggalan Belanda, di depan pasar Rasanggaro jalan aspal tinggal namanya, lebih tepat disebut jalan tanah ada bekas aspalnya.
Jembatan sungai Rasanggaro masih asli peninggalan Belanda, bantalan papan kayu jati ditutup lapisan stenslaag dan aspal yang sudah terkelupas, tiang tengahnya dari besi bulat galfanish dengan trekstang baja, dua tumpuan. Leanengnya dari besi siku dibawahnya penutup seng BWG-28 dikiri kanan, sepanjang pinggir jembatan menutupi kayu bantalan dari hujan.
Jembatan seperti ini masih banyak ditemukan dijalan raya tras Sumatera jalur tengah, konstruksinya lebih panjang-panjang, sehingga bisa terdiri dari delapan tumpuan, karena sungai di Sumatera lebih lebar dan besar.
Ada jalan simpang kekanan ke pesanggrahan Raba Baka, tempat istirahat ada bendungan air untuk irigasi dan kolam renang, tapi airnya tidak bening. Lepas kampung sdah jalan tanah masuk keteduhan hutan jati tempat truk angkutan umum "Majuh Kempo" beristirahat sambil menarik ongkos. Begitu kendaraan berhenti, para penumpang serentak berucap "tanggal satu", maksudnya waktunya gajian supir, "cola-cola".
Awak truk sengaja menghentikan kendaraan jauh dari kota tujuan, semua penumpang diturunkan dan hanya boleh naik lagi keatas bak truk terbuka setelah membayar ongkos "cola-cola" (bayar-bayar), ada resiko bagi penumpang gelap mereka disuruh jalan kaki kekota yang jaraknya masih enam kilo meter.
Makanya begitu truk berhenti semua penumpang berteriak "tanggal satu", karena proses ini bisa makan waktu satu jam lebih, jadi sekitar ungkapan kekesalan atau ancaman, entah yang mana.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar