Rabu, 30 Juli 2014

02133. NGARA DORO :


IYO DAI LEONG. NGARA DORO :


Dari arah gunung dibalik teluk Saleh terlihat kelompok burung terbang tinggi melintas jalan  keatas rawa sebelah kiri, makin dekat semakin rendah rupanya mau mendarat di-rawa-rawa, setelah senjata dikokang diarahkan mengikuti alur terbang kelompok burung itu. Ini penembakan tegak keatas langit, jadi fisir harus diarahkan beberapa inci didepan dada burung  searah burung terbang, untuk mengantisipasi kecepatan terbang burung, paaak.. 

Burung masih tenang terbang melintas namun ada satu yang keluar dari kelompoknya, arahnya agak melengkung kebawah dan makin bawah, membentur pagar sawah dari pohon kedondong hutan. Segera mengejarnya, lumpur menahan kami sebelum sampai kepematang sawah berpagar, ternyata burung masuk kedalam genangan air, burung diterkam I Gde Jedreu, sopir, "airnya dalam pak", dia gelagapan kakinya tidak sampai didasar kolam kecil itu.

Setiap mau ditangkap burung segera menyelam lagi kedalam air, begitu ber-kali-kali sampai ahirnya tertangkap juga, rupanya burung tertembak disayapnya, dia tidak bisa terbang lagi, tapi kalau soal menyelam masih oke. I Gde Jedreu memeluk pematang sawah ter-engah-engah, tangan kirinya memegang leher burung belibis besaaaar, kayak mentok peliharaan tapi warnanya hijau mengkilap. 

Ketika sampai di Dompu pak Illyas, guru honor bilang, "ini ngara doro", "iyo dai  leong  ngara doro" , sela si Hatta, dan setelah dibakar masak kecap, memang enak dan gurih sekali, lebih gurih dari burung belibis yg dua ekor tadi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar